Who have changed 180 degree? (1)

January 15, 2009 by ratnorohanda

Kalaulah sekarang kita berada pada posisi sebagai orang yang menjadi tersenyum apabila begitu antusias bercerita tentang kisah-kisah diri kepada teman-teman di sekitar. Pernahkah kita berencana untuk beranjak mengalihkan posisi tersebut 180 derajat? Yang semula sebagai penyampai cerita yang ekspresif menjadi pendengar yang empati.

Kalaulah sekarang kita berada pada posisi sebagai orang yang menjadi terikat dalam sebuah komunitas apabila begitu banyak hal yang didapatkan masih sejalan dengan beragam pengharapan kita. Pernahkah kita berencana untuk beranjak mengalihkan posisi tersebut 180 derajat? Yang semula sebagai pengharap yang berbalas menjadi pemberi yang tak berbatas

Kalaulah sekarang kita berada pada posisi sebagai seorang pemuda atau pemudi yang mencitakan kado terindah dalam hidup berupa kehadiran seorang pendamping. Pernahkah kita berencana untuk beranjak mengalihkan posisi tersebut 180 derajat? Yang semula sebagai penanti kado terindah yang sabar menjadi penyiap kado terindah bagi yang menanti.

Kalaulah sekarang kita berada pada posisi sebagai orang yang menghidupkan jalinan-jalinan sosial apabila mampu memberikan reaksi baik terhadap sapaan lingkungan. Pernahkah kita berencana untuk beranjak mengalihkan posisi tersebut 180 derajat? Yang semula sebagai perespon yang sigap menjadi penyapa yang akrab.

Karena dengan menjadi pendengar yang empati, kita akan semakin merasakan arti penting keberadaan kita bagi teman kita.

Karena dengan menjadi pemberi yang tak berbatas, kita akan semakin merasakan arti penting keberadaan kita bagi komunitas kita.

Karena dengan menjadi penyiap kado terindah bagi yang menanti, kita akan semakin merasakan arti penting keberadaan kita bagi penanti kita.

Karena dengan menjadi penyapa yang akrab, kita akan semakin merasakan arti penting keberadaan kita bagi lingkungan sosial kita.

Dan sungguh akan selalu ada orang-orang yang berencana untuk beranjak mengalihkan posisi perannya 180 derajat. Meskipun sangat sedikit dalam hitungannya tetapi sangat diharapkan dalam kehadirannya.

Membuka Ruang Interaksi dalam Lingkaran Rutinitas

January 14, 2009 by ratnorohanda

Kampus, kantin dan kos-kosan merupakan lingkaran ruang-ruang keberaktivitasan mahasiswa yang lebih sering ditempati dibandingkan yang lainnya. Di tiga tempat inilah seorang mahasiswa beranjak membangun rutinitasnya. Termasuk saya selaku mahasiswa yang terkadang merasa jenuh dengan rutinitas yang harus dijalani. Kuliah di kelas, praktikum di laboratorium, rapat organisasi di depan sekretariat himpunan, mengejar tenggat waktu tugas di kosan teman bahkan sempat mengalihkan waktu tidur demi mempersiapkan ujian akhir semester. Demikianlah serangkaian rutinitas tersebut.

Benar adanya bahwa rutinitas diatas membawa saya kepada kondisi kejenuhan hingga berujung menghadirkan kemalasan. Sejalan dengan itu saya selalu memiliki terapi khusus guna memulihkan penyakit akibat rutinitas yang akan muncul.

Pertama, aktivitas pemulihan itu saya lakukan apabila kondisi alam mendukung yakni tatkala hujan turun. Selepas dipenati beragam rutinitas biasanya saya bersegera membasahi tubuh dengan guyuran hujan. Menghujankan diri mulai dari kampus hingga kosan. Berjalan kaki, menikmati interaksi langsung dengan alam. Sejenak menghiburkan diri melalui interaksi akrab dengan alam, itulah istilah saya.

Kedua, oleh karena rutinitas itu terbentuk di tempat-tempat yang sudah pasti (kampus dan kosan) maka sebenarnya kita bisa menciptakan nuansa-nuasa baru selama berada di ruang peralihan. Ruang peralihan itu seperti jalan yang dilalui ketika menuju ke kampus. Cobalah selalu mencari ruang peralihan yang berbeda. Kali pertama berangkat dengan angkutan kota, kali kedua mengendarai sepeda motor, kali ketiga berjalan kaki dan begitu seterusnya. Menghidupkan ruang peralihan secara berkala, itulah istilah saya. Bila perlu hayati tokoh-tokoh kehidupan yang tampak selama berada di ruang peralihan tersebut. Seperti penjual koran, pembersih jalanan dan penjual asongan.

Ketiga, orang-orang yang sering saya temui di lingkaran ruang-ruang keberaktivitasan tersebut ternyata juga akan menambah tingkat kepenatan rutinitas. Keharusan meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang diluar rutinitas menjadi bagian penting dalam upaya menyegarkan nafas keberaktivitasan. Menelepon teman lama, bersms ria dengan adik, mendengarkan curhat saudara sampai berbincang akrab dengan penjual mie rebus di keheningan malam menjadi energi baru untuk memulai beraktivitas kembali. Berakrab ria dengan orang-orang diluar rutinitas, itulah istilah saya.

Dengan resep tersebut saya mendapatkan percikan semangat baru dalam memulai menapaki beragam rutinitas yang ada guna mencapai beribu asa di depan.

Berteman dengan Musisi (1)

January 13, 2009 by ratnorohanda

Berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pola kegiatan yang berbeda dengan kita ternyata mampu memperluas ruang toleransi dalam hidup.

Sudah menjadi bagian dari unsur kemanusiaan ketika kita merasa sangat nyaman berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang serupa. Layaknya orang yang senang berolahraga akan terkembangkan potensinya saat mengakrabkan diri dengan sesama orang yang menyenangi olahraga.

Namun apa yang akan kita peroleh dikala kita dituntut untuk berinteraksi dengan orang-orang yang sangat berbeda dalam hal kecenderungan?

Tenang…

Kondisi ini saya rasakan sebagai orang yang diberi kesempatan melihat proses transformasi seorang teman menjadi calon musisi ulung di masa depan. Pertama, mentalitas kesuksesan orang itu tidak tersekat oleh dengan identitas apa ia harus dikenal. Artinya pilihan jalur kehidupan apapun yang ditapaki, selama tertanam dalam jiwanya mental kesuksesan maka ia akan tetap melaju meraih misi kesuksesannya. Kedua, ada pola-pola solusi pencapaian kesuksesan yang hampir sama dari setiap asa yang ingin kita raih. Artinya dengan satu solusi umum kita sudah bisa mencapai beragam harapan di sepanjang jenjang kehidupan kita.

Dengan jujur kita bisa menjadi pedagang, hakim dan anak yang jujur.

Mentalitas dan solusi umum berupa sikap “jujur” mampu merangkai khazanah kesuksesan.

Mendefinisikan Istirahat (1)

December 31, 2008 by ratnorohanda

Beralih dari satu kegiatan menuju kegiatan yang lainnya dalam rangkaian hidup ini merupakan hal yang biasa dijalani dan harus selalu dilakukan oleh siapapun. Karena kesungguhan menuntaskan satu kegiatan agar mampu bersegera menuju kegiatan berikutnya menjadi pertanda dari tingkat kerberkualitasan kehidupan seseorang.

Kalaulah ada kelompok orang yang mendefinisikan istirahat sebagai upaya untuk menjedakan diri dari berbagai kesibukan yang ada maka akan ada juga golongan orang yang mendefinisikan istirahat sebagai peralihan dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Suatu saat akan sampai masa dimana akan ditemukan orang yang menulis akan beristirahat dari kegiatannya saat dia membaca, orang yang membaca akan beristirahat dari kegiatannya saat dia berempati kepada rekannya, orang yang berempati kepada rekannya akan beristirahat dari kegiatannya saat dia memimpin rapat organisasi, begitulah seterusnya.

Hingga ia merasa “jika aku selalu tertidur di siang hari berarti telah kusia-siakan rakyatku dan jika aku selalu tertidur di malam hari berarti telah kusia-siakan jiwaku (potensi)”

Hello world!

December 31, 2008 by ratnorohanda

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!